Berita Perusahaan

Berikut ini adalah berita-berita dari kami. Silahkan hubungi kami untuk informasi lebih lanjut.


Selamat Ulang Tahun Jakarta



Hari ini Kota Jakarta tepat berusia 490 tahun. Usia yang tak lagi muda untuk sebuah kota. Adapun Kota Jakarta lahir pada 22 Juni 1527.

Sungai Ciliwung menjadi saksi bisu sejarah berdirinya Kota Jakarta dari masa ke masa. Di dekat bandar kali Ciliwung ini berdiri sebuah lokasi bernama Kelapa yang menjadi cikal bakal kota metropolitan di Indonesia. Kelapa mulai dikenal sejak abad ke lima dan ramai dikunjungi oleh pedagang dari berbagai penjuru dunia. Tidak heran jika Kelapa kemudian menjadi salah satu pusat perdagangan internasional kala itu. Kejayaannya mulai diperoleh sekitar abad 14 pada masa pemerintahan di bawah Kerajaan Sundayang  berpusat di Padjajaran.

Ketika bangsa Eropa datang ke Indonesia, mereka menjadikan Sunda Kelapa sebagai tujuan utama untuk berdagang. Namun kejayaan yang pernah dirasakan Jakarta tidak bertahan lama. Hal tersebut disebabkan karena Fatahillah berhasil merebut Sunda Kelapa saat melakukan pertarungan sengit dan menguasai wilayah tersebut. Pada saat itulah ia mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta. Nama tersebut berarti kemenangan yang tercapai dan diubah pada tanggal 22 Juni 1527. Tanggal inilah yang kemudian diperingati sebagai hari lahirnya Kota Jakarta. Kota Jayakarta berkembang sebagai kota pelabuhan yang sibuk, dimana para pedagang dari Cina, India, Arab dan Eropa serta dari Negara-negara lainnya saling bertukar barang-barang/komoditi .

Jakarta memiliki luas sekitar 661,52 km² (lautan: 6.977,5 km²), dengan penduduk berjumlah 10.187.595 jiwa (2011) merupakan kota metropolitan terbesar di Asia Tenggara Sebagai pusat bisnis, politik, dan kebudayaan, Jakarta merupakan tempat berdirinya kantor-kantor pusat BUMN, perusahaan swasta, dan perusahaan asing. Kota ini juga menjadi tempat kedudukan lembaga-lembaga pemerintahan dan kantor sekretariat ASEAN.

Dari segi  kualitas lingkungan, kota Jakarta termasuk kota ketiga di dunia (setelah Mexico City dan Bangkok) yang tingkat pencemarannya cukup tinggi, baik dari sisi pencemaran udara, air, dan juga tanah. Permasalahan ini sebenarnya tak lepas dari tingginya tingkat pertumbuhan penduduk, baik dari segi angka kelahiran di Jakarta maupun urbanisasi yang menyebabkan banyak lahan mengalami alih fungsi dari yang seharusnya. Perbaikan lingkungan harus diprogramkan dengan baik dan efektif untuk meminimalisasi dampak buruk yang telah dan akan terjadi.


Berikut ini beberapa permasalahan yang ada di Jakarta yang berhubungan dengan lingkungan :

1. Pencemaran Air dan Eksploitasi Air Tanah

Air menjadi sumber masalah yang serius bagi DKI Jakarta. Di musim hujan banjir menggenangi kota, sedangkan di musim kemarau terjadi defisit air bersih. Daya dukung lingkungan untuk menyediakan air bersih bagi warga kota juga semakin terbatas, sementara tingkat kebutuhan air bersih terus meningkat. Beberapa masalah yang terkait dengan lingkungan hidup adalah degradasi kualitas air akibat pencemaran, hilangnya sumber air akibat pemanfaatan areal daerah aliran sungai dan situ, serta tingginya pemanfaatan air tanah menyebabkan penurunan permukaan tanah.

2. Pencemaran Udara

Tingkat polusi udara di DKI Jakarta adalah yang tertinggi di seluruh Indonesia. Menurut BPLHD DKI Jakarta, kandungan PM-10 (Partikel Debu) yang pernah mengalami penurunan justru kembali meningkat pada tahun 2011 dan tahun 2012 hal ini diduga akibat penurunan aktivitas uji emisi kendaraan bermotor.

3 Alih Fungsi Lahan Ruang Kota

Laju pertumbuhan penduduk yang pesat telah mendorong perubahan fungsi lahan kota secara besar-besaran. Tidak terintegrasinya pengelolaan ruang hijau dan biru menyebabkan banyak situ di Jakarta hilang dan yang masih tersisa umumnya dalam keadaan rusak. Areal Ruang Terbuka biru dan hijau biasanya dipenuhi pemukiman liar, menjadi tempat pembuangan limbah, atau tempat pembuangan sampah, dan kemudian diuruk untuk dialihfungsikan.

4. Pengelolaan Sampah

Sampah tidak pernah habis, karena merupakan konsekuensi dari aktivitas manusia.  Bahkan akan selalu bertambah seiring dengan meningkatnya aktivitas masyarakat. Pemerintah Pusat dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup gencar mengkampanyekan pengolahan sampah berbasis lingkungan dan masyarakat, antara lain melalui kegiatan daur ulang, pemilahan sampah berdasarkan karakteristiknya sehingga kembali berguna.

5. Banjir

Secara umum banjir disebabkan oleh sebagian warga masyarakat yang masih membuang sampah di sungai dan badan air serta pemanfaatan bantaran sungai untuk pemukiman menyebabkan berkurangnya daerah terbuka hijau sebagai daerah resapan air.

Upaya pelestarian lingkungan yang dapat dilakukan oleh masyarakat, kelompok, industri dan pemerintah, diantaranya adalah :

  1. Memasang instalasi pengolahan limbah di pabrik-pabrik
    Instalasi pengolahan limbah pabrik sangat penting untuk memantau limbah yang dibuang      sehingga tidak mencemari lingkungan sekitarnya.
  2. Melakukan penghijauan
    Penghijauan berfungsi untuk cadangan air, mencegah erosi dan banjir serta menghasilkan oksigen.
  3. Pemerintah harus mengeluarkan peraturan tentang larangan pembukaan lahan dengan cara pembakaran.

Upaya pelestarian lingkungan yang dapat dilakukan oleh individu  :

  1. Penghematan energi
    Mematikan alat elektronik yang tidak digunakan dan memasang lampu LED yang hemat energy.
  2. Penghematan air
    Menggunakan air secukupnya dan mematikan kran air saat tidak digunakan
  3. Pengurangan dan pendaurulangan sampah. Mendaur ulang sampah plastik yang tidak dapat diurai menjadi barang bermanfaat dan bernilai ekonomis, membawa tas belanja saat berbelanja di swalayan
  4. Menjaga keberhasilan, dan penghijauan Lingkungan. Membuang sampah pada tempatnya, tidak membakar sampah di jalan, tidak mengotori dinding/tiang/pagar dan lain-lain dan menanam pohon di halaman rumah.

Peranan Laboratorium Lingkungan PT. Unilab Perdana Dalam Mensukseskan Program Pemerintah Propinsi DKI Jakarta Untuk Kegiatan Upaya Pengelolaan Lingkungan

PT. Unilab Perdana merupakan laboratorium swasta pertama di Indonesia, berdiri pada tanggal 30 Oktober 1990, telah berkiprah selama ± 27 tahun dalam memberikan jasa layanan bidang Lingkungan Hidup. Pelanggan PT.Unilab Perdana berasal dari berbagai lapisan masyarakat yaitu personal, instansi pendidikan, instansi pemerintah (KLHK dan DLH), industri, rumah sakit, hotel dan konsultan.

Dalam perjalanannya, PT.Unilab Perdana telah melakukan pengujian laboratorium dengan melakukan pengambilan sampel uji dari berbagai lokasi mulai dari Aceh sampai Jayapura.   

Pencemaran lingkungan telah menjadi isu global yang terus mendapatkan perhatian dari semua kalangan, baik dikalangan pemerintah maupun masyarakat umum. Pencemaran lingkungan hidup sudah dianggap sebagai sebuah kejahatan yang harus diberikan ganjaran setimpal kepada setiap pelanggarnya. Beberapa Departemen yang ada di pemerintahan memiliki satuan kerja yang terkait dengan dengan masalah masalah lingkungan hidup. Tidak lupa pula banyak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak dalam bidang Lingkungan Hidup juga tumbuh subur ditengah-tengah masyarakat. Hal ini menunjukkan keseriusan pemerintah dan masyarakat dalam menanggulangi masalah lingkungan hidup.

Dalam melakukan identifikasi masalah pencemaran lingkungan diperlukan sebuah standar yang dapat dijadikan sebagai acuan untuk untuk menyatakan sebuah penecemaran lingkungan telah terjadi. Misalnya standar yang digunakan dalam penentuan kulaitas udara ambien adalah PPRI No. 41 tahun 1999, tentang Bakumutu  Kualitas Udara Ambien Nasional. Dalam PPRI No. 41 Tahun 1999 tersebut telah di tetapkan standar kualitas udara yang memenuhi syarat kesehatan, jika standar tersebut dilampaui maka dapat dikatakan bahwa kualitas udara di suatu lokasi diduga tercemar kualitasnya.

Masih segar dalam ingatan kita ketika terjadi kebakaran hutan parah yang melanda hampir diseluruh wilayah Indonesia pada medio tahun 2015 lalu, seluruh sumberdaya kita bersatu padu untuk melakukan pemadaman kebakaran hutan, bahkan beberapa negara tetanggapun berupaya membantu melakukan pemadaman kebakaran tersebut karena dampaknya sudah sangat mengkhawatirkan dengan merenggut korban jiwa dan menyebabkan pencemaran kualitas udara yang cukup parah. Secara kasat mata dapat dikatakan bahwa di lokasi kebakaran hutan tersebut telah terjadi pencemaran kualitas udara.

Pernyataan tersebut tidaklah cukup jika belum dibuktikan dengan pengujian laboratorium terhadap kualitas udara di lokasi kebakaran hutan. Hasil pengujian laboratorium diperlukan untuk dapat dijadikan sebagai dasar pernyataan yang mengatakan bahwa telah terjadi pencemaran kualitas udara dan melakukan penyelidikan lanjutan terhadap pelaku pembakaran. Hasil pengujian labopratorium lingkungan juga dapat dijadikan sebagai alat bukti di pengadilan untuk menjerat pelaku pencemaran terhdap lingkungan hidup.

Laboratorium Lingkungan adalah instrumen atau alat yang digunakan untuk melakukan pengujian konsentrasi zat-zat pencemar yang terkandung dalam komponen-komponen lingkungan. Komponen-komponen lingkungan tersebut dapat berupa air, udara, tanah, lumpur dan lain lain. Pencemaran terhadap komponen-komponen lingkungan hidup dapat berupa pencemaran fisik, kimia, biologi dan radioaktif.

Pencemaran fisik terdiri dari pencemar yang memepengaruhi sifat-sifat fisika dari komponen lingkungan, pencemaran kimia adalah pencemaran yang berasal dari bahan bahan kimia yang digunakan atau sisa proses kegiatan industri. Pencemaran biologi adalah pencemaran yang diakibatkan oleh masuknya unsur-unsur mahluk hidup dan mikroorganisme kedalam komponen-komponen lingkungan hidup, sedangkan pencemaran radioaktif adalah pencemaran yang diakibatkan oleh kegiatan-kegaiatan radioaktifitas seperti pembangkit listrik bertenaga nuklir dan lain-lain.

Peran laboratotrum lingkungan sangat vital dalam menentukan status mutu lingkungan. Status mutu lingkungan tidak dapat ditentukan tanpa melakukan pengujian kualitas lingkungan terhadap komponen-komponen lingkungan yang tercemar. Laboratorium lingkungan adalah alat yang digunakan untuk mengambil kebijakan lingkungan, karena laboratorium menghasilkan angka, angka dijadikan sebagai standar, dan standar dijadikan acuan untuk untuk menetapkan kualitas sebuah komponen lingkungan hidup.

Laboratorium lingkungan telah memberikan peran yang strategis dalam mengisi kemerdekaan Republik Indonesia. Dapat dibayangkan jika belum ada laboratorium lingkungan yang beroperasi di Republik ini, maka kita akan sangat tergantung kepada hasil pengujian laboratorium dari luar negeri. Tentu saja hal ini akan memerlukan biaya yang tidak sedikit dalam upaya pengukapan kasus-kasus pencemaran terhadap lingkungan di Indonesia.

Dengan demikian keberadaan laboratorium lingkungan sangat penting dalam mengawal kemerdekaan Indonesia agar pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development) dan berwawasan lingkungan dapat terus berjalan menuju Indopnesia yang adil makmur dan sejahtera.

 

PERANAN LABORATORIUM LINGKUNGAN DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN

Oleh: Drs. P. Nasoetion, M.Si.

Staf Pengajar Fakultas Teknik Lingkungan

Universitas Malahayati Bandarlampung

Salah satu aspek penting yang dapat mempengaruhi efektif dan efisien tidaknya pengelolaan lingkungan hidup di suatu negara atau daerah adalah tersedia tidaknya laboratorium yang dalam hal ini adalah laboratorium lingkungan yang mampu menghasilkan data yang valid dan reliable, tidak terbantahkan, serta dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah maupun secara hukum.  Oleh karena itu, peranan dan fungsi laboratorium lingkungan adalah sangat vital dalam mendukung tugas-tugas pemerintah terutama yang berwenang dalam pengelolaan lingkungan hidup seperti Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) di pusat maupun lembaga-lembaga lingkungan hidup di daerah seperti  Bapedalda ataupun Badan Pengelolalaan Lingkungan Hidup (BPLH), terutama dalam menyediakan data kualitas lingkungan yang akurat dan valid baik untuk dipergunakan untuk mengetahui atau memonitor  ada tidaknya pencemaran lingkungan di suatu wilayah (mis: sungai) maupun sebagai alat bukti dalam penegakan hukum lingkungan. Pentingnya laboratorium lingkungan tersebut sering diibaratkan sebagai jantung pada manusia. Artinya sistem pengelolaan lingkungan tidak akan berjalan efektif dan efisien tanpa didukung oleh laboratorium.

Disamping itu, data kualitas lingkungan juga dapat dipergunakan sebagai dasar perencanaan, evaluasi, maupun pengawasan yang sangat berguna bagi para pengambil keputusan, perencana, penyusun program, baik di tingkat pusat maupun daerah dalam menentukan kebijakan lingkungan hidup. Hal itu sesuai dengan filosofi yang menyatakan bahwa: “No Measurement – No Data; No Data – No Information; No Information – No Management; No Management – No Policy”. Meningkatnya kasus-kasus pencemaran lingkungan dan sering kandasnya kasus-kasus lingkungan melalui proses pengadilan di Indonesia (mis: pencemaran sungai, kebakaran hutan) seringkali disebabkan oleh kurangnya data-data dan informasi serta tidak validnya data yang dikumpulkan dari lapangan maupun yang dihasilkan dari analisis laboratorium, sehingga data sebagai alat bukti pencemaran sangat lemah, yang selanjutnya mengakibatkan dakwaan maupun pembuktian sangat lemah, dimana selanjutnya sangat mempengaruhi dalam penegakan hukum lingkungan. Kelemahan ini seringkali dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu yang tidak bertanggungjawab untuk tidak melakukan pengelolaan lingkungan dengan baik.  Memang harus diakui bahwa laboratorium pengujian lingkungan yang ada di Indonesia saat ini baru dimiliki oleh daerah-daerah tertentu pada level provinsi, sedangkan pada tingkat kabupaten, hanya kabupaten-kabupaten  tertentu yang memilikinya, itupun hanya laboratorium sederhana yang sangat minim peralatannya. Hal ini sangat erat kaitannya dengan anggaran pemerintah pusat atau Pemda yang sangat terbatas untuk dapat menyediakan laboratorium yang notabene harganya sangat mahal.

Dengan kondisi yang demikian kita tidak bisa berharap bahwa pengelolaan lingkungan hidup di daerah tersebut akan berjalan dengan baik. Sebagai contoh di Provinsi Lampung institusi/lembaga yang telah memiliki laboratorium pengujian yang sudah cukup lama antara lain adalah Akademi Kesehatan Lingkungan (AKL)/Poltekes, Laboratorium Daerah (Dinas Kesehatan). Hal itupun biasanya terbatas pada pengujian parameter-parameter kualitas lingkungan  tertentu dari kualitas air, kualitas udara, bising, debu, dll.  Belakangan laboratorium yang representative dan memadai barulah dimiliki oleh Bapedalda Provinsi maupun Kota Bandarlampung.  Oleh karena itu, kita sangat appresiatif  dengan apa yang telah dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dalam upaya peningkatan kapasitas laboratorium lingkungan di daerah dengan adanya pengalokasian dana alokasi khusus bidang lingkungan hidup (DAK-LH), dimana pada tahun 2006 difokuskan kepada pengadaan peralatan laboratorium sederhana untuk pemantauan kualitas air serta pembangunan laboratorium lingkungan di beberapa daerah termasuk di Sumatera.

Sesuai dengan judul tulisan di atas, maka tulisan ini mencoba menguraikan tentang bagaimana peranan laboratorium lingkungan dalam pengelolaan lingkungan.

Data kualitas lingkungan yang dihasilkan dari laboratorium antara lain dapat dijadikan sebagai indikasi adanya pencemaran lingkungan sekaligus sebagai alat bukti dalam penegakan hukum lingkungan maupun dalam membuat perencanaan dan kebijakan dalam pengelolaan lingkungan hidup. Oleh karena itu, untuk mendapatkan validitas data pengujian parameter kualitas lingkungan yang dapat dipercaya sesuai dengan tujuan yang diharapkan, bukan hanya dibutuhkan laboratorium yang memenuhi syarat dan refresentative, akan tetapi juga yang lebih penting adalah diperlukan manajemen laboratorium yang baik, peralatan laboratorium yang lengkap, personel yang kompeten, biaya dll.

Dalam pembuktian kasus`pencemaran lingkungan sungai misalnya, bukanlah hal yang mudah. Oleh karena itu, ada beberapa tahapan ataupun prosedur yang perlu diperhatikan terutama dalam pengambilan sampel air sungai. Dengan kata lain diperlukan perencanaan pengambilan sampel yang baik yang bertujuan antara lain:

  1. Memastikan kembali tujuan pengambilan sampel lingkungan
  2. Memutuskan cara-cara mencapai tujuan
  3. Mengetahui apa yang harus dilakukan saat pengambilan sampel dengan mempertimbangkan sumberdaya dan segala urusan administrasi, misalnya ijin untuk memasuki suatu pabrik
  4. Menyiapkan sumberdaya yang diperlukan
  5. Menghindari kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi pada saat pengambilan sampel dan tahapan selanjutnya  yaitu penanganan sampel di lapangan, transportasi, preparasi, dan analisis di laboratorium (Hadi, 2005).

Secara umum tujuan pengambilan sampel lingkungan ada 4 yaitu:

1. Mengumpulkan data rona awal lingkungan (exploratory)

Pengambilan sampel lingkungan dengan tujuan pengumpulan data rona awal lingkungan pada hakikatnya adalah mengetahui informasi awal kualitas lingkungan pada daerah dan waktu tertentu. Data yang diperoleh dapat membantu menggambarkan kualitas lingkungan pada situasi tertentu. Data tersebut dapat dipergunakan sebagai bahan pembanding atau evaluasi kualitas lingkungan sehubungan dengan adanya perubahan sebagai dampak kegiatan di sekitar daerah tersebut. Misalnya untuk membantu menyajikan informasi awal tentang keberadaan bahan pencemar atau polutan beserta nilai konsentrasinya.

2. Memantau lingkungan (monitoring)

Pemantauan lingkungan adalah pengulangan uji parameter lingkungan di lokasi dan titik pengambilan sampel yang telah ditetapkan pada periode tertentu.  Hal itu berarti ketika sampel lingkungan yang diambil dapat mewakili kondisi sesungguhnya untuk parameter yang sama dalam periode tertentu, data pemantauan akan dapat dibandingkan.

3. Menegakkan hukum lingkungan

Dalam mengawasi penerapan peraturan perundangan lingkungan hidup atau membuktikan indikasi pencemaran lingkungan diperlukan pengambilan sampel dimana penentuan lokasi dan titik pengambilannya didasarkan pada situasi yang ada, sedangkan parameter ujinya disesuaikan dengan permasalahan yang dihadapi.

4. Melakukan penelitian lingkungan

Pengambilan sampel untuk penelitian lingkungan sangat tergantung pada ruang lingkup penelitian.

Selanjutnya pemantauan lingkungan (monitoring) mempunyai tujuan antara lain:

  1. Menentukan status kualitas lingkungan
  2. Mengelola sumberdaya alam
  3. Menentukan kebijakan pengeloaan lingkungan
  4. Menghadapi masalah lingkungan global

Dalam kaitannya dengan penegakan hukum lingkungan  atau pembuktian kasus pencemaran lingkungan (mis: sungai) di samping diperlukan data dan informasi tentang rona awal atau base line study, juga perlu diperhatikan teknik dan prosedur pengambilan sampel yang benar secara ilmiah, titik lokasi pengambilan sampel, personel yang memiliki latarbelakang pendidikan yang sesuai, pengetahuan yang memadai tentang undang-undang lingkungan dan standar terkait.  Petugas pengambil sampel juga hendaknya dilakukan oleh yang berkompeten, misalnya Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) yang ditunjuk oleh kepolisian atau instansi terkait.

Di samping itu yang lebih penting diperhatikan adalah bagaimana pengendalian mutu lapangan (field quality control) dari sampel yang dilakukan oleh petugas sehingga data yang dihasilkan dari lapangan dapat dipercaya dan valid. Mutu data lapangan sangat tergantung dari beberapa hal, antara lain:

  1. Pengambilan sampel yang representative
  2. Penggunaan peralatan yang tepat
  3. Penanganan dan pengawetan yang sesuai
  4. Prosedur identifikasi dan rangkaian pengamanan sampel yang memadai
  5. Pengendalian mutu lapangan

Selanjutnya, agar data yang dihasilkan dari lapangan  dapat dipercaya dan valid sehingga dapat dijadikan sebagai dasar atau bukti dalam penegakan hukum lingkungan ataupun dalam membuat perencanaan maupun kebijakan dalam pengelolaan lingkungan hidup baik di pusat maupun di daerah sangat tergantung pada bagaimana penanganan sampel di lapangan, transportasi sampel dari lapangan ke laboratorium, preparasi sampel di laboratorium, dan analisis di laboratorium lingkungan dilakukan.

Bila pengambilan sample di lapangan tidak memenuhi kesesuaian terhadap kaidah-kaidah yang berlaku, maka langkah selanjutnya seperti pengawetan, transportasi, penyimpanan, preparasi maupun pengujian di laboratorium akan sia-sia serta membuang waktu dan biaya. Filosofi penjaminan mutu mempunyai makna bahwa setiap tahapan kegiatan tidak asal betul saja, melainkan harus betul sejak awal diterapkan pada setiap proses mulai dari perencanaan pengambilan sample, pengujian sampel di laboratorium sampai penyusunan laporan pengujian termasuk interpretasi data hasil pengujian. Disinilah pentingnya peranan SDM/personal yang memiliki kompetensi/keahlian di bidang penelitian, manajemen maupun teknisi laboratorium lingkungan.

Pada akhirnya, agar pengelolaan lingkungan berjalan dengan efektif di daerah serta untuk dapat mengendalikan kerusakan lingkungan yang lebih parah, memang sudah selayaknya pemerintah mengalokasikan dana untuk membangun laboratorium lingkungan di setiap daerah tingkat II/kabupaten dilengkapi dengan SDM yang kompeten, sebab bagaimanapun canggihnya suatu laboratorium dengan segala peralatannya bila tidak ditunjang oleh SDM yang kompeten dan memadai serta dana/anggaran  pengelolaan yang memadai akan sia-sia belaka.

 

*) Divisi Sales PT Unilab Perdana

PT. UNILAB PERDANA

Head Office
Jl. Ciledug Raya No.10 Cipulir
Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. 12230.
Phone : +62 21 7253322, Fax : +62 21 7253323

Representative Office
Jl. Kutisari IV/2B, Tenggilis Mejoyo, Surabaya
Phone : +62 31 8415839, Fax : +62 31 8415839
Marketing Office
Jl. Raya Abianbase Kapal, MenguwiBadung, Bali Phone : 0823-4003-9831

Marketing Office
Jl. Dock Yard No.6-7A, Pangkalan Sesai, Dumai Barat, Dumai-Riau.3551 Phone : 0765-810121

Media Informasi

Lokasi

  • whatsapp