Berita Perusahaan

Berikut ini adalah berita-berita dari kami. Silahkan hubungi kami untuk informasi lebih lanjut.


Hygiene Industri Yang Baik Membuat Pekerja Menjadi Aman Dan Sehat

I.        PENDAHULUAN

Kata Higienes memiliki arti yaitu ilmu tentang kesehatan dan berbagai usaha untuk mempertahankan atau memperbaiki kesehatan (KBBI IV, 2008). Secara umum Higiene industri didefinisikan sebagai ilmu dan seni dalam melakukan antisipasi, rekognisi, evaluasi, dan pengendalian terhadap faktor-faktor lingkungan atau stresses, yang timbul di atau dari tempat kerja, yang dapat menyebabkan sakit, gangguan kesehatan dan kesejahteraan atau ketidaknyamanan bagi pekerja maupun warga masyarakat. Secara khusus higiene perusahaan fokus pada upaya pengenalan/identifikasi, penilaian/pengujian, pemantauan faktor lingkungan tenaga kerja

Seperti halnya profesi yang lain, menentukan kapan pertama kalinya praktek higiene industri dilakukan sangat sulit untuk ditentukan, namun kita bisa mulai menjawabnya dengan mengidentifikasi kapan manusia mulai menyadari adanya bahaya di tempat kerja dan bagaimana cara mengendalikannya. Ruang lingkup Higiene industri adalah RAEP dengan singkatan Rekognisi, Antisipasi, Evaluasi, Pengendalian, sehingga pekerja terhindar dari celaka dan penyakit akibat kerja. Urutan langkah ruang lingkup Higiene Industri tidak dapat dibolak-balik, sehingga urutan tersebut dalam penerapannya harus berurutan dan merupakan siklus yang tidak berakhir selama aktivitas industri berjalan.

Rekognisi yaitu mengenal bahaya lingkungan yang berhubungan dengan pekerjaan (Work Operation) dan pemahaman dari efek atau akibatnya terhadap para pekerja maupun masyarakat disekitarnya. Tujuan dari melakukan Rekognisi adalah mengetahui jenis (fisika, kimia, ergonomi, psikologi) dan besarnya bahaya (konsentrasi/kadar didalam lingkungan kerja), sumber bahaya (material, proses, peralatan, limbah) dan area kerja yang beresiko serta  pekerja yang beresiko (pekerja dan unit kerja). Metode Rekognisi yang dilakukan adalah:

  1. Laporan kecelakaan kerja digunakan untuk mengantisipasi area berbahaya, proses terjadinya bahaya serta pekerja yang berpotensi
  2. Laporan pemeriksaan fisik untuk mengidentifikasi kondisi kronis.
  3. Pengumuman kepada karyawan digunakan untuk sosialisasi K3
  4. Inspeksi lapangan digunakan untuk pengecekan terhadap mesin dan lingkungan kerja
  5. Diskusi dengan tenaga ahli yang professional.

Antisipasi adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk memprediksi kemungkinan-kemungkinan potensi bahaya di tempat kerja. Metode Antisipasi yang dilakukan adalah:

  1. Tentukan skop area: area kerja, resiko bahaya, pekerja
  2. Mengumpulkan data potensi bahaya: data primer (observasi, spot sampling, kuesioner), data sekunder (hasil reset, literature, laporan)
  3. Laporan: berupa listing seluruh potensi bahaya, hasil kategori bahaya atau tidak.

Evaluasi adalah melakukan pengukuran, pengambilan sampel dan analisa (lapangan dan laboratorium) terhadap resiko bahaya di tempat kerja. Hasil pengukuran dan analisa disesuaikan dengan peraturan yang berlaku seperti Kepmenaker No. 13 tahun 2011 tentang nilai ambang batas factor kimia dan fisika. Manfaat dilakukannya evaluasi hygiene industri adalah mengetahui kondisi lingkungan kerja secara kuantitaif dan rinci, mengetahui perbandingan hasil pengukuran dengan standar, memastikan perlu atau tidaknya teknologi pengendalian yang harus dilakukan, mengetahui perlunya korelasi terhadap kasus kecelakaan dan penyakit akibat kerja dengan lingkungan kerja. 

Pengendalian adalah tindakan koreksi terhadap resiko bahaya yang teridentifikasi sebelumnya. Tindakan pengendalian dilakukan setelah tindakan evaluasi resiko bahaya dilakukan. Tindakan pengendalian yang dilakukan adalah tindakan koreksi dengan system pengendalian setelah terjadi dampak lingkungan akibat kerja, setelah tindakan pengendalikan harus dilakukan tindakan pencegahan. Tindakan pencegahan diperlukan agar kejadian akibat dampak lingkungan kerja tidak terulang kembali. Metode pengendalian hygiene industry adalah substitusi, isolasi, mengurangi debu (cara basah), good house keeping, cukup ventilasi dengan menggunakan ventilasi umum yang mengalirkan udara bersih dan tidak digunakan untuk fume dan debu, ventilasi local untuk menangkap kontaminan, proteksi perorangan.

 

 II.      ACUAN PERATURAN

Penerapan Higiene industri berdasarkan aturan dari pemerintah yaitu:

  1. UU No.1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja pada pasal 3 ayat 1, butir :
    1. Mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebar luasnya suhu, kelembaban, debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan angina, cuaca, sinar radiasi, suara dan getaran
    2. Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja baik fisik maupun psikis, peracunan, infeksi dan penularan.
    3. Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai
    4. Menyelenggarakan suhu dan lembab udara yang baik
    5. Peraturan Menteri Perburuhan No. 7 tahun 1964 tentang syarat kesehatan, kebersihan serta penerangan dalam tempat kerja,
  • Pasal 5 ayat 5: luas tempat kerja harus sedemikian rupa sehingga tiap pekerja dapat tempat yang cukup untuk bergerak bebas, paling sedikit 2 meter utk seorang pekerja
  • Pasal 6 ayat 6: jumlah kakus disesuaikan dengan jumlah pekerja
  • Pasal 12 ayat 4: penerangan buatan menyebabkan kenaikan suhu dan tidak boleh naik melebihi 32 oC.
  1. Kepmenakertrans no. 13 tahun 2011 tentang nilai ambang batas faktor fisika dan faktor kimia di tempat kerja
  2. Kepmenkes No. 1204 Tahun 2004 tentang persyaratan kesehatan lingkungan rumah sakit
  3. Kepmenkes No. 1405 Tahun 2002 tentang persyaratan kesehatan lingkungan kerja perkantoran dan industri
  4. Peraturan Menteri Kesehatan No. 472 Tahun 1996 tentang : Pengamanan Bahan Berbahaya Bagi Kesehatan


 III.    TUJUAN

Tujuan dilakukannya Higiene industri adalah:

  1. Sebagai alat untuk mencapai derajat kesehatan tenaga kerja yang setinggi-tingginya
  2. Meningkatkan hasil produksi yang berlandaskan kepada meningkatnya efisiensi dan daya produktivitas manusia dalam produksi
  3. Tenaga kerja terlindung dari berbagai resiko akibat lingkungan kerja.

Penerapan Higiene industri sangat diperlukan dikarenakan hal-hal sebagai berikut ini:

  1. Bahaya selalu ada di tempat kerja
  2. Pekerja adalah mitra perusahaan dan yang mengelola perusahaan.
  3. Bila produktivitas menurun maka perusahaan akan rugi.
  4. Adanya kejadian penyakit dan kecelakaan akibat kerja
  5. Perusahaan akan mengalami kerugian yang tidak ternilai jumlahnya bila terjadi peningkatan penyakit akibat kerja dan meningkatnay ketidakhadiran pekerja karena sakit yang diakibatkan oleh bahaya di tempat kerja
  6. Peraturan mengharuskan perusahaan untuk meningkatkan kesehatan pekerja
  7. Mengabaikan hal pekerja untuk tetap sehat berarti melanggar HAM

 

 IV.   RUANG LINGKUP PENGUKURAN HIGIENE INDUSTRI

Ruang lingkup pengukuran Higiene industri sesuai dengan  Kepmenakertrans No. 13 tahun 2011 adalah :

  1. Pengukuran fisika: iklim kerja, kebisingan, pencahayaan, getaran, sinar ultra violet, radiasi medan magnet, radiasi medan listrik
  2. Pengukuran kimia: debu, asbes, gas kimia (misal: ammonia, hydrogen sulfisa, fomaldehid, benzene, toluene, xylene, dll)
  3. Pengukuran biologi: total bakteri di udara, jamur, uji swap pada dinding, uji swap pada peralatan makan dan peralatan steril untuk operasi, dll
  4. Pengukuran psikososial: tes psikologi untuk menentukan keadaan psikologi pekerja

 

V.     DAMPAK NEGATIF

Dampak negatif bila tidak diterapkan Higienes industry dapat menyebabkan penyakit akibat kerja dan kecelakaan kerja antara lain:

  1. Dampak fisika: tuli (tingkat pendengaran menurun), gangguan mata (tingkat penglihatan menurun, penyakit tremor, kanker akibat radiasi dari gelombang elektromagnetik dan listrik
  2. Dampak kimia: kanker, racun masuk kedalam tubuh mealui saluran pernafasan dan kontak langsung
  3. Dampak biologi: infeksi dari mikroba yang masuk kedalam tubuh, muntaber
  4. Dampak psikososial: stress kerja, menurunnya semangat kerja akibat dari beban kerja, tekanan pekerjaan, lingkungan kerja yang tidak kondusif.

 

VI.    PENERAPAN HIGIENE INDUSTRI

Penerapan Higiene industry sangat diperlukan di setiap perusahaan, hal ini untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan aman sehingga akan mencegah penyakit akibat kerja dan kecelakaan kerja. Tindakan yang harus dilakukan setiap industry adalah:

  1. Melakukan monitoring pengukuran parameter Higiene industry untuk melihat resiko bahaya yang terjadi di area tempat kerja.
  2. Eliminasi: melakukan upaya menghilangkan bahaya dari sumbernya serta menghentikan semua kegiatan pekerja di daerah yang berpotensi bahaya.
  3. Substitusi : Modifikasi proses untuk mengurangi penyebaran debu atau asap, dan mengurangi bahaya, Pengendalian bahaya kesehatan kerja dengan   mengubah beberapa peralatan proses untuk mengurangi bahaya, mengubah kondisi fisik bahan baku yang diterima untuk diproses lebih lanjut agar dapat menghilangkan potensi bahayanya.
  4. Isolasi : Menghapus sumber paparan bahaya dari lingkungan pekerja dengan menempatkannya di tempat lain atau menjauhkan lokasi kerja yang berbahaya dari pekerja lainnya, dan sentralisasi kontrol kamar.
  5.  Engineering control : Pengendalian bahaya dengan melakukan modifikasi pada faktor lingkungan kerja selain pekerja.
  6. Administrasi control: Pengendalian bahaya dengan melakukan modifikasi pada interaksi pekerja dengan lingkungan kerja.
  7. APD (Alat Pelindung Diri) : langkah terakhir dari hirarki pengendalian.

 


Head Office
Jl. Ciledug Raya No.10 Cipulir
Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. 12230.
Phone : +62 21 7253322, Fax : +62 21 7253323

Representative Office
Ruko Section One Kavling B-3, Jl Rungkut Industri Raya No. 1, Surabaya - Jawa Timur
Phone : +62 31 8415839, Fax : +62 31 8415839





Marketing Office
Jl. Raya Abianbase Kapal, MenguwiBadung, Bali Phone : 0823-4003-9831

Marketing Office
Jl. Dock Yard No.6-7A, Pangkalan Sesai, Dumai Barat, Dumai-Riau.3551 Phone : 0765-810121
Marketing Office
Jl. Gotong Royong Raya No. 66 A Kelurahan Mentaos Kecamatan Banjarbaru Utara Kota Banjar Baru Phone: 0812-5194-682






Media Informasi

Lokasi

  • whatsapp